You are here: Home Buku Prof

Psikopatologi Kejahatan Seksual

kejahatan seksual

Kejahatan seksual berupa perkosaan yang akhir-akhir ini menjadi topic pembicaraan di media, pada hakekatnya bukanlah semata-mata karena “rokmini”, melainkan merupakan interaksi beberapa factor. Adanya factor-faktor seperti pornografi, miras dan narkoba, kesempatan dan peluang menjadikan kejaharan seksual itu muncul. Masalah berbusana bagi kaum perempuan hendaklah sesuai dengan azas kesopanan, kepatutan dan kepantasan. Tidak benar kalau hanya berdasarkan emansipasi dan HAM saja. Berbicara soal HAM, harus dipertimbangkan bentuk HAM yang mana, dari Barat atau dari timur, atau HAM menurut agama?

Pengertian kejahatan seksual merupakan dimensi atau spectrum yang luas. Kejahatan seksual tidak semata-mata merupakan hubungan seksual dibawah ancaman, paksaan dan kekerasan saja, tetapi juga hubungan seksual suka sama suka pun termasuk didalamnya. Mengapa? Sebab, meskipun hubungan seksual itu dilakukan mau sama mau, tetapi dampak dari hubungan ini bias berdampak pada tindak pidana seperti kehamilan di luar nikah, aborsi, bayi dibuang atau dibunuh, penularan penyakit kelamin termasuk HIV/AIDS dan lain sebagainya.

Forbiden Love

 

forbiden love

 

Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, industrialisasi dan modernisasi serta sekularisme mengakibatkan pergeseran nilai-nilai, moral, etika, dan hukum.Hal ini menimbulkan ketidakpastian fundamental dalam kehidupan sosial terutama kehidupan berumah tangga dan hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Dalam masyarakat modern dan industri, lembaga yang paling terguncang eksistensinya adalah keluarga/rumah tangga. Akibatnya banyak orang memilih hidup bersama tanpa nikah, pergaulan bebas, promiskuitas, pelacuran, hubungan sesama jenis dan lain sebagainya. Kesemuanya itu dipandang dari sudut agama tidak dapat dibenarkan bahkan dilarang (diharamkan).

Dalam buku ini diuraikan hubungan psikoseksual yang normatif (halal), yang non normatif 9haram) dan yang merupakan penyimpangan/kelainan psikoseksual. Kesemuanya itu berdasarkan pengalaman praktek sehari-hari dengan mengacu pada agma dan kepustakaan.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk (Q.S. Al Israa’, 17 : 32).

 

Global Effect HIV/AIDS Dimensi Psikoreligi

global effect hiv

HIV/AIDS pertama kali muncul pada kelompok homoseksual di San Francisco, Amerika serikat pada tahun 1980. Usaha kalangan medis untuk mengontrol perilaku seksual mereka mendapat tantangan dan gagal karena dianggap oleh mereka melanggar HAM. Kemudian HIV/AIDS menyebar di kalangan pelacur, pelaku seks bebas (remaja), perselingkuhan, dan akhirnya pada ibu-ibu rumah tangga yang ditulari oleh suaminya yang suka “jajan”.

HIV/AIDS diketahui pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1987 dan dengan kecepatan 1 menit 5 orang tertular. Kini penyakit kelamin ini telah menyebar ke seluruh dunia dan merupakan global effect. Meskipun HIV/AIDS adalah penyakit kelamin namun penularannya dapat juga melalui tranfusi darah, jarum suntik yang tercemar (para pecandu narkoba), bayi dalam kandungan melalui tali pusat dan lain-lainnya, sehingga orang yang tidak “nakal” pun dapat mejadi “korban” karenanya.

Berdasarkan penelitian ilmiah maka pencegahan yang paling baik adalah tidak melakukan perzinaan (hubungan seks bebas, perselingkuhan, dan pelacuran) dan tidak mengkonsumsi NAZA (Narkotika, Alkohol dan Zat adiktif). Penggunaan kondom tidak menjamin tidak tertular, resiko penularannya mencapai 30%. Apabila kalau kondomnya itu tidak berkualitas dan sudah kadaluarsa, maka penularan dan penyebaran HIV/AIDS lebih besar lagi. Kampanye kondom yang sekarang ini dilakukan dianggap melegalisir perzinaan dan menyesatkan (V, Cline 1995, R. Smith, 1995; M. Potts, 1995). Sementara itu FDA Amerika (2005) menganjurkan kepada pabrik kondom agar mencantumkan peringatan pada kemasan kondom, bahwa kondom untuk sperma bukan untuk virus (HIV/AIDS).

Lima Besar Penyakit Mental Masyarakat

jurnal kepolisian

 

Kemiskinan materi, kemiskinan iman dan kemiskinan informasi merupakan salah satu sebab keterpurukan bangsa. Masalah utama yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan bangsa Indonesia adalag SDM yang kurang bermutu, serta ketidakpastian secara fundamental di bidang hukum, moral, norma dan etika kehidupan.

Dalam buku ini diuraikanlima besar penyakit mental masyarakat yang merupakan pertanda SDM tidak berkualitas. penyakit tersebut dikenal dengan istilah mo-Limo yang merupakan singkatan dari maling (korupsi), Madon (perzinaan), Main (berjudi), Minum (miras/alkohol), dan Madat (narkoba).

Dengan tuntunan wahyu illahi yaitu mengutip ayat-ayat suci al qur'an dan hadist Nabi Muhammad SAW, menjadikan kajian ilmiah Mo-Limo ini merupakan penyakit mental masyarakat yang sudah mendapat peringatan dari Allah SWT 1.500 tahun yang lalu. Untuk itu manusia kembali diperingatkan dalam momentum introspeksi idul fitri.

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (alkohol, minuman keras) dan judi: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari anfaatnya.”

(Q.S. Al Baqarah, 2:219)

 

Dimensi Religi Dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi

200009665 xl

 

Dari semua cabang ilmu kedokteran, maka cabang ilmu kedokteran jiwa (psikiatri) dan kesehatan jiwa (mental health) adalah yang paling dekat dengan agama. Demikian pula halnya dengan ilmu jiwa (psikologi). Bahkan dalam mencapai derajat kesehatan yang mengandung arti keadaan sejahtera (wellbeing) pada diri manusia, terdapat titik temu (convergence) antara psikiatri/psikologi/kesehatan jiwa di satu pihak dan agama di lain pihak.

WHO sendiri (1984) telah mendefinisikan batasan sehat dengan memasukkan dimensi spiritual/agama disamping sehat arti fisik, mental dan social. Sejalan dengan hal tersebut di atas, paradigm baru psikiatri Amerika menganut pendekatan holistic yaitu bio-psiko-sosial-spiritual (APA, 1992). Dalam buku inii diuraikan perkembangan psikiatri dan agama dalam upaya mensejahterakan umat manusia tidak lagi bersifat dikotomis melainkan terintegrasi. Dengan demikian antara psikiater dan rohaniawan merupakan mitra; atau dengan kata lain Religion and Psychiatry merupakan Clinical Models of a Partnership (ronsheim, D.M., 1994). Untuk itu dimensi religi dianjurkan masuk dalam kurikulum pendidikan residen.